• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Kiprah Pejuang Budaya di Tengah Galaknya Corona

 

Gigih Mencetak Dalang Hingga Pengendang

 

Siang itu, pukul 14.00 WIB. Alunan indah tabuhan gamelan terdengar menghanyutkan. Getar suaranya seakan memecah kebisingan. Penyejuk di kala panas sang surya membakar bumi. Semakin lama, tabuhan gamelan semakin terdengar syahdu. Rancak sekali. Ditambah suara-suara bocah yang bersenda gurau membingkai alunan gending srempeg itu. Semakin syahdu kedengarannya.

 

Yo mas yo mas jarwo mudane sang prabu kresno, begitu alunan suara yang terdengar mengiringi tabuhan gamelan. Dari sebuah ruang  sanggar seni, suara gamelan itu semakin menggoda untuk dinikmati alunannya menjelang sore hari tiba.

 

Dibalik suara syahdu tabuhan gamelan itu, nampak seorang pria yang usianya dibilang sudah mulai sepuh (tua).Mengenakan kaos putih dan celana pendek warna hitam kesukaannya, pria itu terlihat sedang duduk bersila khas seorang dalang. Kaki kiri bertumpu pada paha kanannya.

 

“Seni itu pasti indah, tapi yang indah ngak mesti seni,” tutur pria lulusan terbaik PDMN (Pasinaon Dalang Mangkunegaran) Surakarta itu kepada anak didiknya yang sedang belajar seni dalang di sanggar miliknya.

 

Mbah Nyoto sedang mengajari muridnya jadi pengendang (foto: miftachul ulumudin)

 

Dua tahun sudah pagebluk Covid-19 membabi buta. Melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, termasuk bidang seni budaya. Para seniman  dengan hati yang merana dan tersiksa, terpaksa harus menghentikan aktivitas budayanya. Ini semua dilakukan demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona yang sudah menelan banyak korban jiwa di berbagai belahan dunia.

 

Tak terkecuali akivitas sanggar seni Budi Luhur yang terletak di Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Selama Pandemi, kegiatan di sanggar ini juga terimbas pandemi Covid-19. Namun demikian, sanggar seni ini tetap terlihat gigih berkiprah mengembangkan budaya warisan lelulur kepada generasi penerus bangsa. Tentu saja semua ini dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,.

 

Ki Hadi Sunyoto (65) atau yang akrab disapa Mbah Nyoto merupakan tokoh sentral di sanggar seni Budi Luhur. Sebagai seniman ulung yang sudah terkenal di Tulungagung, ia tetap gigih menjadi benteng penjaga kelestarian budaya nusantara meskipun di tengah suasana pandemi seperti ini.

 

“Memang ndak mudah berjuang di tengah pandemi, tapi berjuang untuk menjadi seorang Mbah Nyoto yang sekarang itu lebih susah lagi,” tutur Mbah Nyoto sembari memainkan gender dengan sangat indah.

 

Bukan hal mudah bagi Mbah Nyoto untuk bisa menjadi seorang guru seni yang mampu mendidik siswanya menjadi seniman handal. Menjadi seorang pedagang pun pernah ia lakoni. Itu  tatkala ia divonis tak bisa mendalang karena gangguan kesehatan mata. Dengan gangguan kesehatan itu, membuatnya tak mungkin melakukan pementasan wayang kulit semalam suntuk.

 

Menjadi guru seni bukanlah pilihan dan tujuan hidupnya sedari awal. Namun, seiring perkembangan jaman, ternyata bermunculan banyak generasi muda yang gemar dengan seni budaya lokal, khususnya mendalang dan mengendang. “Inilah yang membuat saya terpanggil menjadi guru seni,” terang Mbah Nyoto.

 

Berangkat dari situlah, Mbah Nyoto memulai kariernya sebagai guru seni dengan mendirikan sanggar seni Budi Luhur. Dari sentuhan pendidikannya, telah lahir seniman seniwati berprestasi di tingkat lokal maupun nasional. Bagi Mbah Nyoto, ketika anak didiknya mampu menjadi seniman yang baik, itu cukup menjadi pelipur lara di tengah usianya yang semakin menua. “ Keberhasilan anak didik  menjadi seniman membuat saya jadi bahagia,” katanya.

 

Dihantui Rasa tak Nyaman

 

Memang tak mudah menjadi seorang seniman. Berbagai tantangan muncul seakan menjadi barisan barikade yang menghalanginya. Apalagi dalam suasana carut marut Corona ini terasa sangat sulit untuk terus menapak jalan sebagai seorang seniman.

 

Berbagai perasaan tak nyaman menghantui Mbah Nyoto maupun para muridnya saat proses latihan di sanggar seni. Bayang-bayang bahaya virus Corona seakan menjadi anak panah yang siap melesat ketika sedikit saja abai dan lengah dengan protokol kesehatan.

 

“Kesulitan ya banyak mas, rasanya kalau mau latihan ndalang di sanggar kayak nggak bebas,” ujar Erlanda (15), salah seorang dalang cilik yang sudah 5 tahun menjadi murid Mbah Nyoto.

 

Mbah Nyoto sedang mengajari mendalang muridnya (foto: miftachul ulumudin)

 

Tetapi, Mbah Nyoto tak pernah memaksakan para siswanya untuk mengikuti kegiatan latihan dalam masa pandemi. “Yang ngak latihan dulu silahkan, yang mau tetep latihan juga silahkan. Mbah Nyoto selalu siap melatih, asal kesehatan mbah lagi baik,” tutur Mbah Nyoto di sela-sela membenahi tabuhan kendang siswanya.

 

Di balik halangan dan rintangan karena pandemi itu, tak terbesit sedikit pun bagi Mbah Nyoto dan para muridnya untuk berhenti dan menyerah dengan keadaan. Mereka tetap konsisten dan yakin bahwa saat seni yang diperjuangkan adalah suatu kebenaran, maka Corona tak bisa menjadi alasan untuk berhenti belajar.

 

“Seni yang tidak bertentangan dengan hukum negara dan hukum agama, itu pantas diperjuangkan walaupun dalam masa sulit seperti ini le,” ujar Mbah Nyoto dengan tegas.

 

Bagi Mbah Nyoto, umur hanyalah angka yang menemani manusia selama hidup. Namun, bagaimana ia mampu tak egois dengan membagi ilmunya kepada para generasi yang haus ilmu seni, itu merupakan sebuah penyegar di masa tua.

 

“Orang yang hanya mau memendam ilmunya sendiri, itu nggak baik le. Mau dibayar atau nggak, tetap sampaikan dan bagikan ilmumu,” tutur seniman penggemar nasi jagung itu memberikan wejangan.

 

Telaten Cetak Pengendang dan Dalang

 

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mungkin ungkapan ini sangat cocok untuk disematkan kepada figur Mbah Nyoto. Dengan berbagai kesabaran dan ketelatenan, Mbah Nyoto telah lama berkiprah mencetak seniman dalang dan pengendang. Dia mendidik dan mengajari generasi bangsa untuk mencintai sekaligus menjadi pelestari seni budaya lokal warisan nenek moyang tanpa memperhitungkan imbalan meteri.

 

“Gimana ya mas, saya pikir mbah nyoto itu luar biasa, Beliau itu sabar sekali, ulet, dan telaten. Benar-benar seorang guru yang terbaik, “ tutur Angga (14), seorang pengendang cilik didikan Mbah Nyoto.

 

Ia tak mengeluh walau harus tertatih-tatih berjalan menuju ruangan kecil berukuran 9 x 7 meter persegi yang dijadikan sanggar tempat ia mengajar. Di ruang sanggar itu sudah melahirkan puluhan dalang dan pengendang. Dengan segenap tenaganya yang sudah mulai renta, ia tak berhenti menuntun generasi milenial pencinta budaya meraih impian menjadi seniman handal.

 

Lihat saja, tatkala muridnya kebingungan tentang materi yang dipelajari, ia tak segan mengulanginya walau harus dengan sangat menguras tenaganya. “Mbah, ini kalau nggak pakai janturan (ucapan dalang untuk membuka cerita) gimana ya mbah,” tanya sang murid suatu ketika.

 

Dengan sangat sabar, ia menjawab bahkan mempraktikkannya langsung di depan kelir berukuran 4 x 3 meter. Dengan tangan yang tak henti-hentinya bergetar karena masih dalam masa pemulihan setelah sakit, Mbah Nyoto mempraktikkan yang ditanyakan muridnya.

 

“Gini ya le, kalau nggak pake janturan, wayangnya langsung keluar kelir nggak berhenti dulu,” ujar Mbah Nyoto yang dibarenginya dengan mempraktikkan bagaimana wayang seharusnya digerakkan.

 

 

Mbah Nyoto dengan sabar mengajari muridnya (foto: miftachul ulumudin)

 

Bagi Mbah Nyoto uang bukan lah hal penting. Tetapi, keseriusan dalam belajar adalah hal yang paling Mbah Nyoto tekankan dalam pembelajaran. ” Mbah Nyoto lebih milih dibayar seikhlasnya  tapi muridnya serius dari pada dibayar 200 juta tapi muridnya nggak serius,” ucapnya yang seakan menunjukkan betapa luar biasanya sosok guru seni yang satu ini.

 

Mbah Nyoto sudah cukup menunjukkan seorang figur guru, seniman, dan keluarga bagi murid-muridnya. Bahkan, di tengah kesuksesan para muridnya, ia tak pernah merasa ingin meminta balasan atas apa yang ia ajarkan.

 

“ Harapan Mbah Nyoto supaya murid-murid ini bisa pintar. Nggak harus inget Mbah Nyoto setelah sukses,” pungkasnya (miftachul ulumudin).

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
17 September Sebagai Peringatan Hari Palang Merah Nasional

Pada setiap tahunnya, 17 September diperingati sebagai Hari Palang Merah Nasional. Kalian pasti sudah tahu kan, apa itu PMI? Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi nasion

17/09/2021 08:29 WIB - Redaksi (Humas)
Artikel : TINGKEBAN-MITONI: Antara Tradisi dan Religi

27/05/2021 15:23 WIB - Administrator