• MA NEGERI 2 TULUNGAGUNG
  • CERDIK BERSEMI BERBUDAYA LINGKUNGAN SEHAT
  • admin@man2tulungagung.sch.id
  • (0355)321817
  • <
  • Pencarian

Di Balik Layar Budaya Pendidikan Indonesia

Mau  ngeluh  salah  kalau  nggak  ngeluh susah. Sungguh dilema selama musim Corona ini. Coba bayangkan sudah lima bulan mendekam di rumah. Sekolah online semakin  parah,  siswa  semakin  stres gurunya lebih susah.

Berbicara  soal  sekolah  online,  memang saya sendiri sebagai pelajar tingkat menengah atas juga merasakan sesak; sesak napaslah, sesak otaklah, terlebih sesak melihat dompet kosong karena tidak mendapat jatah bulanan.

Namun, kemarin saya baru dapat hidayah. Ceritanya malam-malam saya ngeluh sama ibu.

Sambil rebahan nonton tv sama keluarga tiba-tiba saya berceletuk, “ Buk, sekolah online nggarai aku mumet. Jarang diparingi sangu, kuotaku cepet ludes, tugas katah eram, hpku lemot. Aihh pegel aku.”

“ Alah, nde rumah maem akeh ga usah sangu-sanguan.” jawab ibu tetap fokus sinetron di tv. Sebenarnya   bukan untuk jajan yang saya maksudkan lebih tepatnya untuk mengobati kanker saya alias kantong kering.  Akhirnya Alhamdulillah sama ibu dikasih gocap lumayanlah.

Keesokan paginya, sama ibu disuruh ngantar ke sekolah sekalian nanti pulang pengen  belanja. Memang ibu bekerja jadi guru kelas empat Sekolah Dasar Negeri di desa tetangga lumayan jauh dari desa saya. Padahal saya juga masuk sekolah, akhirnya tetep manut buat kemarin dikasih gocap. Ternyata yang ibu maksud bukan sekolah tapi malah di sebuah masjid di bawah gunung. Terlihat  masjidnya  sedang  dalam  pemberhentian  proyek  renovasi  agar  lebih  layak  untuk beribadah. Masjid itulah tempat ibu mengajar selama pandemi ini. Dengan pertemuan tiga kali seminggu.

Saya sempat kesal karena jalannya tidak semulus yang saya bayangkan. Lubang sana sini, batu besar juga banyak. Benar-benar akses jalannya susah sekali hampir saja motor yang saya tumpangi terpleset.

Sampailah di tempat yang ibu maksud, ekspresi kesal saya seakan hilang berubah dengan keterkejutan-tertegun mungkin. Melihat siswa-siswi ibu sudah menunggu di teras masjid beralas keramik dengan semangat 45. Dengan baju rumahan ala kadarnya anak desa di kaki gunung dengan beberapa buku di dalam tas sekolah mereka. Tanpa satupun yang terlihat istimewa.

Dengan khidmat mereka mendengarkan penjelasan ibu. Memang hal ini ibu saya lakukan demi anak didiknya dan tanggungjawab akan profesinya. Di sela-sela pelajaran ibu sering menyuruh anak didiknya membawa permainan tradisional seperti, dakon, ular tangga, atau bola bekel. Kalau sudah selesai mengerjakan mereka bisa bermain mainan tersebut. Jadi anak tidak belajar saja mereka bisa mengasah motorik dari permainan tersebut.

Pada saat saya diam mengamati mereka saya tersadar akan sesuatu. Bersyukur.

Acap kali saya sering mengeluh kepada orang sekitar saya tentang masalah sekolah online. Namun kali ini saya merasa tertampar. “ Kondisi kamu jauh lebih baik dari mereka.” dewi batin saya seakan mendengungkan kata-kata itu.

Daerah Sekolah Dasar tempat ibu mengajar memang lingkungan dengan kondisi perekonomian mayoritas menengah ke bawah dan berbagai masalah sosial yang ada di masyarakat. Terutama kasus perceraian, hampir di setiap angkatan ada siswa korban broken home.   Mereka hanya tinggal bersama kakek dan nenek atau saudara dekat tanpa pengawasan yang lebih. Jadi orang tua dan anak hanya mengandalkan bangku sekolah sebagai media belajar

Kakek dan nenek yang kuwalahan saat pandemi seperti ini. Selain harus bekerja, mereka juga harus mendampingi cucunya belajar. Padahal fasilitas serba terbatas bahkan, ada yang tidak mampu membeli hp. Namun, tuntutan mengerjakan tugas materi harus serba bisa. Bisa kita bayangkan mereka 2x lebih lelah daripada  saat masuk sekolah.

Tak ayal banyak guru yang tidak manut dengan standarisasi penilaian siswa karena mereka menyesuaikan dengan kondisi anak didik tersebut. Mampu atau tidak. Coba saja seperti murid ibu saya, anak gunung sebutannya. Bukan anak yang suka mendaki gunung-gunung di Indonesia melainkan memang mereka tinggal di gunung. Dengan segala bentuk keterbatasan ekonomi, media / fasilitas belajar. Bahkan tiga dari lima belas murid beliau ada yang belum bisa membaca dan menulis padahal mereka sudah kelas empat Sekolah Dasar.  Maka semua murid tidak bisa disamakan dong !

Kakung Stepen Hawking berkata, “ Orang yang membanggakan IQ nya adalah seorang pecundang “

Boleh saja IQ tinggi tapi jangan lupa turun di dunia kerja juga butuh skill ferguso! tidak cuma nilai saja. Kalau pinter doang akhlak minus ya tidak enak dipandang. Maka dari itu program Merdeka Belajar cetusan Bapak Mendikbud ini sangat pas dengan situasi pendidikan Indonesia masa kini.

Kembali ke murid ibu saya tadi, memang benar sebelum adanya New Normal. Beberapa kali walimurid sambang ke rumah. Ada yang mengurus BSM ( kalau tidak tau silakan googling dulu biar update), sampai curhat keadaan anaknya selama di rumah. Orangtua ya bingung, pengennya masuk sekolah. Saya hanya diam menyimak sesi curhat, dari hasil analisa dan data curhatan walimurid tadi, saya simpulkan bahwa anak tidak hanya butuh pembelajaran teori saja, orang tua bisa mengajarkan sang anak memasak, mencuci piring, menyapu, mencuci baju, dan lain sebagainya untuk melatih soft skill mereka.

Kita semua harus open minded,” Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mreka hidup bukan di jamanmu” – Ali bin Abi Thalib

Pendidikan jaman sekarang yang seringkali tercampur dengan pemikiran yang ngawur malah semakin membuat anak-anak tertekan. Apalagi masih banyak di pojok wilayah Indonesia belum mendapat pendidikan yang layak.

Seperti  salah  satu  kabar  di  podcast  instagram.  Tentang  bagaimana  reaksi  anak  Sumbawa menangis histeris yang akan ditinggal pulang oleh para relawan pengajar di pelosok negeri. Bagi kita mungkin, sekolah atau belajar sudah hal yang lumrah. Tapi tidak dengan mereka-anak Sumbawa. Mendapat pelajaran baca tulis seperti menemukan oase di padang pasir.

Seperti halnya guru yang mengajar di gunung atau pelosok lainnya dengan fasilitas minim dan seadanya. Maka tidak bisa menyebut belajar itu sekolah atau  belajar itu menghitung, menghafal, dan meniru. Bermain juga belajar. Main gundu juga belajar.

Sok, kalau ada yang masih ngeluh sekolah online padahal fasilitas sudah tercukupi. Mungkin kita kurang bersyukur, kurang menyadari, dan kurang peka. Toh onlineshop semakin merajalela.

ojo ngeluh wae ! Zannuba Assyifa Qotrunnada / XI IPS 3

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Senyum Mbok Bakul Pasar Senggol di Masa New Normal

Oleh : Salma Nur Azizah             Pagi itu, matahari mulai memancarkan panasnya. Suasana Pasar Senggol sudah mulai berdenyut. Ba

30/08/2020 10:43 WIB - HUMAS
Pizza Naws Melejit Di Masa Pandemi

Hai Dear … ! Pasti kamu akrab banget nih dengan kata kuliner, sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi daya tarik paling memikat generasi milenial dan terus menjadi topic hangat di d

29/08/2020 10:51 WIB - HUMAS
TikTok Bikin Ceria Saat di Rumah Saja

Oleh : Nila Nafisatul Bashiroh Kelas XII IPS 2   // Nungguin ya// // Cinta ku bukan diatas kertas// // Cintaku getaran yang sama.// // Tak perlu dipaksa// // Tak perlu dicari// //

25/08/2020 08:54 WIB - HUMAS
Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?

Belajar Hari Ini, Sudahkah Kita Merdeka?   Mutakhir ini, isu adanya rencana penghapusan Ujian Nasional atau UN semakin  disoroti. Ya tentu ada pro kontra nya. Ada yang seratu

24/08/2020 08:15 WIB - HUMAS
Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina

Menilik Kisah Pelajar di Tengah Darurat Desa Karantina Oleh : Keisha Alayda Fadma XI MIPA 2                 Matahari mul

24/08/2020 08:00 WIB - HUMAS
Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi

Tradisi Ngopi Hingga Glokalisasi Oleh: Fauza Millata Hanifa/XI MIPA 4 “Piye kabare? Isih penak jamanku, toh?” jargon yang dulu, waktu masih memakai seragam merah putih serin

22/08/2020 22:26 WIB - HUMAS
Keluh Kesah Belajar Daring Anak TK Ngambek Belajar Gegara yang Ngajar Sang Ibu

Keluh Kesah Belajar Daring Anak TK Ngambek Belajar Gegara yang Ngajar Sang Ibu Oleh : SOFARINA ROKHMAH/XI BAHASA   Mendung tebal menghalangi sang mentari pagi sehingga tak da

22/08/2020 08:59 WIB - HUMAS
Optimalisasi e-Learning Pada Proses Pembelajaran di MAN 2 Tulungagung

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Kurang lebih 80 bapak ibu guru MAN 2 Tulungagung mengikuti webinar (web dan seminar) pada Sabtu (01/08) pukul 13.00 WIB. Pada webinar tersebut hadir seb

06/08/2020 12:28 WIB - HUMAS
MATSAMA Daring Di Tengah Zona Kuning Tulungagung

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) secara serentak berlangsung di seluruh Madrasah di Jawa Timur dengan mode daring, termasuk di MAN

15/07/2020 08:58 WIB - HUMAS
Aksi AKM Dalam Penyusunan UKBM Untuk Mempersiapkan Pembelajaran Jarak Jauh (Daring)

Kab. Tulungagung (MAN 2) – Sejumlah 135 guru dan pegawai dari MAN 2 Tulungagung, Pengawas Madrasah, Bapak Ibu Kepala MTsN dan guru di bawah naungan KKM MAN 2 Tulungagung telah men

27/06/2020 19:49 WIB - HUMAS